Sunday, March 30, 2008

WARTA VANILI DUNIA

WARTA VANILLA DUNIA
PERIODE JANUARI S.D MARET 2008

http://www.vanilla.com.my
Satu upacara menandatangani memorandum persefahaman antara Vanilla Biomatrix Sdn Bhd dan Universiti Putra Malaysia telah diadakan semasa Seminar Vanila Pasaran Dunia bertempat di Auditorium Fakulti Kejuruteraan, Universiti Putra Malaysia. Vanilla Biomatrix Sdn Bhd telah menandatangani memorandum persefahaman dengan Mutiara Sarawak Sdn Bhd pada hari Khamis, 31 Januari 2008 bertempat di Hotel Dynasty, Miri. Pelancaran majlis menandatangani memorandum persefahaman ini dilakukan oleh YB Dato Seri Khaled B. Nordin, Menteri Pembangunan Usahawan dan Koperasi Malaysia. Vanilla Biomatrix Sdn Bhd dengan kerjasama dari Rentak Timur Sdn Bhd dan Malaysian Herbal Corporation Sdn Bhd akan menganjurkan seminar Vanila Malaysia Pasaran Dunia pada Februari 2008. Seminar ini bertujuan memberi informasi awal berkenaan tanaman vanila di Malaysia. Para penceramah untuk seminar ini terdiri dari pakar vanila dari Malaysia dan Indonesia. Rentak Timur Sdn Bhd dan Malaysian Herbal Corporation Sdn Bhd telah bergabung membentuk Vanilla Biomatrix Sdn Bhd. Penggabungan ini dilakukan sebagai usaha untuk berkongsi kepakaran dalam membangunkan tanaman vanila di Malaysia. Selain itu usahasama ini baik untuk menjamin masa depan tanaman vanila di Malaysia dan ianya memberi impak positif terhadap penanam vanila serta mereka yang berminat untuk menyertai projek Vanila Malaysia Pasaran Dunia. Rentak Timur telah meluaskan pasaran ke Amerika Syarikat melalui All Asia Food Show yang telah diadakan di Pusat Konvensyen Los Angeles pada 11 dan 12 September 2007.

http://www.hanoitimes.net.vn
Vietnam succeeds in growing vanilla
Posted at 17h11, Day 22 February, 2008
Hanoi Times - Vanilla plants have been successfully test-grown in Thua Thien-Hue province’s mountainous district of A Luoi. The research was conducted out of the Center for Scientific Research and Agriculture-Forestry Technology Development of the College of Agriculture and Forestry under Hue University. Le Van An, head of Hue University’s International Cooperation Department, announced the results o­n February 13. Vanilla, a tropical Indonesian orchid belonging to the family of Orchidaceae, produces flowers and fruit, and is used widely as a natural flavoring. A Vanilla plant can produce about two to three kilos of fruit and currently sells from US$ 180 to US$ 200 per kilo.


http://www.theborneopost.com/?p=30591
MIRI: The Entrepreneur and Cooperative Development Ministry is taking steps to develop resilient and business savvy entrepreneurs who could survive competition instead of churning them out in numbers. Its secretary-general Datuk Musa Mohamad said the approach was needed to cope with the challenges, and to ensure the quality of entrepreneurs produced through its various assistance schemes met the desired mark. He said this in his speech at the memorandum of understanding (Mou) signing ceremony between Vanilla Biomatrix Sdn Bhd and Mutiara Sarawak here yesterday. He represented the minister Datuk Seri Khaled Nordin. The MoU is an initiative undertaken by Miri Division Entrepreneur Development Council which is led by deputy resident Johari Bujang.

“It is pointless to have many entrepreneurs because they would die a natural death if they can’t compete and if don’t have good business management skills,” he said, adding that those with quality would flourish. “To survive, you must be technology-supported to sustain operation, and you must have good management skills to be competitive. “Our ministry’s stand is you must be able to stand on your own two feet,” he added. Meanwhile, he believed Sarawak was moving in the right direction in entrepreneurship development by picking vanilla production as their choice and believed the pilot project would succeed with the cooperation and support from all quarters.
“The potential is huge as the world market demand was 450,000 tons in 2007 of which only half was met, and out of this only three per cent are from organic vanilla,” he pointed out. “The lucrative price of organic vanilla from US$120 to US$150 per kg makes it one of the most prized commodities in the world which the ministry encourages to be tapped through its entrepreneur development strategies,” he said. Sarawak would be venturing into vanilla plantation in Sibuti where a nursery has already been set up, and the soil there is ideal for the cultivation of the crop. Biomatrix is a joint-venture company between Rentak Timur Sdn Bhd and Malaysian Herbal Corporation MHC), while Mutiara is a company selected by Miri Division Entrepreneur Council as marketing agent for vanilla plantation in Sarawak.

Biomatrix would provide the guidance, consultation and expertise in the pilot project in Sarawak. The MoU was signed by CEO Syed Isa Syed Alwi and witnessed by Asmadi Md Said, executive director of MHC, while Mutiara was represented by chairman Sulaiman Ladis and company secretary Mohd Chee Kadir was the witness. Commercial farming of vanilla started in Peninsular Malaysia in 2005 with the pioneering venture by Rentak Timur, and it has been expanded to Sabah in 2007 with the appointment of Koperasi Pembangunan Desa as its management and marketing agent. It will start in Sarawak this March and one million plants are expected by the end of this year, while the first harvest would be in 2011, with a projected production of 1,600 metric tons.

This would be worth about RM80 million annually, and the project would involve the private sector, entrepreneurs, the corporate sector, cooperatives and more than 1,500 farmers in Sarawak with over 500 hectares. A farmer or entrepreneur needs about 0.5 hectare of land for 1,000 vanilla plants where the gross income is expected to be between RM60,000 and RM80,000 annually of which between RM20,000 and RM30,000 is profit.

INFORMATION:

Are you interested for Indonesia Organic Vanilla Tour?

Please get further information by email. agusramadas@yahoo.co.id

WARTA VANILLA INDONESIA



Link Kumpulan Artikel Terbaru
Berita Ternak Kambing Domba& Aneka Rempah, KLIK Link Dibawah:
 

WARTA VANILLA INDONESIA
PERIODE JANUARI S.D MARET 2008

Petani vanili di Desa Sroyo Kecamatan Songgon Banyuwangi mengeluhkan sulitnya menembus pasar luar negeri. Selama ini hasil pertanian vanili setempat hanya dipasarkan di tingkat lokal. Akibatnya, hasil panen yang selalu melimpah dijual dengan harga murah. Kondisi ini menjadi beban petani yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Harga di pasar lokal jauh dari harapan para petani. Setiap kilogram vanili hanya menembus Rp 6.500. Harga ini pun seringkali naik turun. Rendahnya harga lokal sulit mengembalikan biaya yang dikeluarkan oleh para petani. Setiap tahunnya biaya perawatan vanili mencapai Rp 7 hingga 10 juta. ''Sudah lama kami merindukan pasar luar negeri. Harga lokal jauh dari tingginya biaya perawatan,'' kata Ketua Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Kidang Keling Desa Sroyo, Indra Gunawan, Minggu (2/12) kemarin.

Selama ini kata Indra pihaknya hanya bisa pasrah dengan pasar lokal. Sulitnya menembus pasar luar negeri itu karena kualitas belum berstandar internasional. Salah satu kelemahannya adalah belum mampu membuat produk vanili kering. Harga vanili kering biasanya Rp 250.000 hingga 300.000 per kilogram. ''Ini kelemahan kami. Modal yang tersedia masih minim untuk membuat standar internasional,'' keluhnya lagi. Selain vanili kering, pasar luar negeri hanya menerima vanili organik. Padahal sambung Indra, hasil vanili di tempatnya selalu melimpah. Luas lahan vanili mencapai 230 hektar. Pada panen perdana beberapa bulan lalu mampu menghasilkan sekitar 26 ton vanili basah. Jumlah ini baru sekitar 25 persen yang siap panen. Sisanya, masih menunggu tahun depan. Dalam kondisi normal hasil panen vanili selalu membludak. Bahkan, sempat terbengkalai karena harga yang masih rendah.



Rendahnya harga vanili sudah dirasakan bertahun-tahun. Namun, petani setempat tetap saja menanamnya. Alasannya, tanaman itu adalah salah satu komiditi andalan. Mereka juga optimis, harga suatu saat akan melonjak. Selama ini, pasokan vanili dunia sebagain besar datang dari kepulauan Madagaskar. ''Daerah ini seringkali terserang bencana alam. Tidak menutup kemungkinan, vanili kita akan dilirik dan diburu pasar dunia,'' tandas pemenang PHBM tingkat nasional tersebut. Harga vanili dunia diperkirakan bisa menembus Rp 4 juta per kilogram. Namun hanya vanili berstandar khusus yang mampu menembusnya. Pasar vanili banyak didominasi negara Eropa, seperti Belanda dan Jerman. ''Mudah-mudahan vanili kita bisa segera diterima pasar dunai,'' pintanya. Sementara Direktur Produksi Perum Perhutani Pusat Upi Rosalina Wasrin mengatakan standar internasional tidak mudah untuk didapatkan. Untuk mengantonginya pasti melibatkan para pakar asing. ''Inilah kesulitannya, lagi-lagi pihak asing yang berperan,'' ujarnya usai kegiatan field trip di KPH Perhutani Banyuwangi Barat di Desa Sroyo,Songgon, kemarin siang. Meski sulit, Perhutani meminta para petani tidak berkecil hati. Komoditi andalan tidak hanya produk vanili. Artinya, masih banyak produk ketahanan pangan lain yang bisa dijadikan komoditi untuk pengelolaan hutan. (udi)

http://www.ujungpandangekspres.com
Untuk kesekian kali komoditi Vanili (Vanilla planifolia) asal Sulsel harus mengalami nasib tragis, hilang harga bahkan lebih menyedihkan lagi tak ada pembeli yang berani menetapkan harga terendah sekalipun. "Saya harus menanggung rugi ratusan juta rupiah," kata Hj Irwana, salah seorang petani vanila yang juga menjadi pedagang pengumpul di wilayah Salubarani Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja, saat ditemui Upeks Kamis (7/2) kemarin. Kini saya masih menyimpan cukup banyak stok vanila produksi tahun kemarin, di gudang dengan menjaga kemasannya untuk tetap steril dari kontaminasi, tambahnya. Hj Irwana, tergolong petani cerdas, pengetahuannya tentang mutu produk dan tuntutan pasar internasional sangat dimengertinya, tak heran jika kemudian dirinya sangat berang saat mengetahui salah satu penyebab hilangnya harga vanila akibat kelalaian petani dan kecerobohan pedagang sendiri. "Mereka berupaya mengakali proses pengolahan pasca panen dengan menggunakan berbagai cara, agar timbangan berat," katanya.


Agus, salah seorang petani vanila kepada Upeks, menuturkan untuk menambah berat vanila terkadang petani membenamkan paku kecil, atau kawat halus saat selesai vanila dipetik. "Tujuannya agar saat kering nanti, timbangannya menjadi berat. Sayangnya hal itu yang merusak kepercayaan pembeli," katanya. Agus menilai prilaku petani itu, dikarenakan kurangnya bimbingan dari dinas pertanian dan pengawasan pemerintah. Hj Irwana, memiliki pengalaman buruk lain saat berhadapan dengan petani. "Mereka meleburkan 10 kilogram garam dapur, setelah itu mencelup vanila kering dalam air garam kemudian dikeringkan kembali," katanya. Hasilnya saat ditimbang, beratnya naik 10 kilo. Akan tetapi, setelah 3 hari kemudian, permukaan vanila yang biasanya berminyak dan mengkilap, berubah menjadi keputih-putihan terbungkus butiran garam halus. Semua itu mempercepat proses hancurnya kepercayaan pasar luar negeri terhadap vanila asal Indonesia. Sebaliknya di Indonesia, vanila Sulsel kehilangan harga. "Sekarang ini vanila gread C yang pernah harganya mencapai Rp2 juta per kilogram, sekarang dijual Rp90 ribu saja susah," katanya. Bahkan perusahaan asal Surabaya yang selama ini rutin mengambil vanili darinya, menahan diri untuk tidak menerima vanili Sulsel. Tahun 2006, Vanili Indonesia terlihat masih memiliki peluang untuk dijual di pasar internasional. Hal tersebut dibuktikan setelah, pengusaha China dengan bendera Hainan Bright Parfume Co Ltd mengunjungi Indonesia, hanya untuk melihat proses produksi dan budidaya vanili Indonesia dari dekat. Tentu saja ini merupakan sebuah peluang, paska anjloknya harga vanili Indonesia di pasar Vanili dunia tahun 2001. Semua itu dikarenakan kualitas produksi vanili tidak memenuhi standar mutu internasional. Demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) pusat.(zul) (Zulkarnain Hamson)


http://www.kapanlagi.com
Kapanlagi.com - Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) memperketat mekanisme perdagangan komoditi vanili, hal itu untuk menjamin stabilitas harga yang sempat anjlok awal 2007 karena ulah pedagang tertentu. "Perdagangan vanili diperketat agar tidak terjadi lagi peristiwa yang menyebabkan harga vanili anjlok karena ulah pedagang tertentu," kata Kepala Dinas Perkebunan NTB, H. Shahabuddin Sadar, di Mataram, Selasa. Ia mengatakan, NTB merupakan daerah penghasil vanili, para petani gemar menanam komoditi unggulan itu, namun ketika menjadi produk perkebunan kurang diminati ketika oknum pedagang pengumpul melakukan tindakan tidak terpuji. Pedagang pengumpul tertentu mencampur vanili yang dibeli dari petani produsen dengan serbuk besi sehingga menurunkan kualitas dan mempengaruhi kepercayaan pasar.

"Harga vanili NTB terpuruk hingga mencapai Rp12 ribu/kilogram dalam kondisi basah dan Rp15 ribu/kilogram kering, sehingga sebagian petani meninggalkan kegemaran menanam dan memelihara vanili," ujarnya. Sadar mengatakan, untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan konsumen luar daerah dan NTB, Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB menggelar kegiatan pasar lelang sebagai wahana promosi. Pasar lelang itu digelar di Mataram akhir Desember 2007 dan akan digelar kembali pertengahan 2008, sekaligus menjembatani petani produsen vanili dengan pedagang pengumpul serta pengelola industri. "Petani produsen dan pedagang pengumpul diwajibkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) Tentang Mekanisme Perdagangan Vanili, aspek saling percaya menjadi tujuan utama MoU," ujarnya.

Selain itu, tambahnya, pemerintah daerah dan petani produsen juga menjalin kerja sama menjaga dan meningkatkan kualitas komoditi vanili NTB yang beberapa tahun sebelumnya merupakan produk perkebunan primadona. Pada tahun 2005 dan 2006 vanili kering NTB sempat mencapai Rp430 - Rp450 ribu/kilogram. Saat ini, lahan perkebunan vanili di NTB mencapai 814 hektare tersebar di Lombok Barat bagian utara dan Lombok Timur, terutama di desa-desa yang berada di perbukitan dengan produksi rata-rata 87 ton/tahun. Vanili asal Pulau Lombok memiliki kekhasan dibanding vanili dari provinsi lain di Indonesia seperti memiliki aroma yang khas dan panjangnya sekitar 25 centimeter. Produksi vanili Lombok hampir seluruhnya di ekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Singapura dan Hongkong, setiap tahun vanili NTB yang diekspor dapat mencapai 50 ton. (*/rsd)

Kata Kunci:Produksi buah Vanili Indonesia masih kesulitan menembus pasar global karena dianggap Standar Kualitas Buah yang belum memenuhi kualifikasi Internasional. Harga vanili dunia diperkirakan bisa menembus Rp 4 juta per kilogram. Namun hanya vanili berstandar khusus yang mampu menembusnya. Pasar vanili banyak didominasi negara Eropa, seperti Belanda dan Jerman. Kepercayaan pasar Internasional terhadap produksi buah Vanili Indonesia perlu dipulihkan kembali. Hilangkan praktik kecurangan dalam pengolahan buah Vanili di Indonesia baik di tingkat petani, pedagang ataupun eksportir. Budidaya Tanaman Vanili secara Organik guna Produksi Buah Vanili Organik Berkualitas. Salam Petani Organik!

Informasi:
Tour Vanili Organik, silahkan Email. agusramadas@yahoo.co.id atau HP.0815.941.3826


Link Kumpulan Artikel Terbaru
Berita Ternak Kambing Domba& Aneka Rempah, KLIK Link Dibawah:
 

Friday, March 28, 2008

SEMINGGU DI VILLA DOMBA

Sungguh waktu yang tidak terasa bilamana sudah berada di lokasi peternakan& perkebunan organik Villa Domba, ucapan permohonan maaf penulis bilamana cukup lama juga mungkin Blog ini tidak up date. Semoga informasi seminggu di Villa Domba yang penulis sampaikan dapat bermanfaat bagi pembaca Blog sekalian:

”Edutaintment!” Ilmu baru yang penulis peroleh dari bapak Reza dan bapak Wan yang berkenan berkunjung ke lokasi peternakan& perkebunan organik Villa Domba. Semakin bersemangat hendaknya kita seluruh insan peternakan& pertanian organik Indonesia khususnya ditujukan bagi penulis dan personil tim Villa Domba, betapa tidak di mana dari penjelasan yang penulis peroleh dari bapak Reza dan bapak Wan bila sinergi sektor usaha pertanian dan peternakan juga memiliki potensi dasyat untuk dapat dikemas sebagai wisata agro dengan nilai jual yang menjanjikan. Agrotourism yang bersifat Edutaintment, demikian kesimpulan yang penulis peroleh dari perbincangan dengan bapak Reza dan bapak Wan. Informasi bagi pembaca blog sekalian bilamana bapak Reza adalah seorang Operations Manager dari salah satu Tour & Travel Agent yang ada di kota Bandung sedangkan bapak Wan adalah tamu Villa Domba dari negeri jiran Malaysia. Bersama kita memajukan Pariwisata Bandung& Indonesia!


Semakin lebih berbahagia lagi tentunya penulis di mana pada minggu yang lalu juga Villa Domba mendapatkan kunjungan salah sahabat ternak berasal dari daerah Blitar wilayah provinsi Jawa Timur. Adalah mas Didik seorang peternak Kambing PE dan pemilik Blog Kampung Kambing Indonesia. Tidak hanya sekedar silaturahmi, diskusi seputar usaha ternak tentunya juga terjadi pada pertemuan ini. Bahkan mas Didik pun berkenan membagikan ilmu, pengetahuan dan pengalamannya seputar budidaya ternak Kambing Domba. Informasi bagi pembaca Blog sekalian bilamana mas Didik adalah juga salah seorang pengurus pada Asosiasi Peternak Kambing PE di wilayah Blitar. Di Villa Domba di mana mas Didik juga bertemu dengan kang Budhi salah seorang peternak Kambing PE sukses yang ada di kabupaten Bandung. Bersatulah peternak Indonesia!



Kampung Domba. Lama tidak berjumpa karena kesibukan namun bukan berarti renggangnya tali silaturahmi antar peternak, apalagi bilamana pengikatnya adalah Domba pastinya akan selalu ada pertemuan disetiap ada kesempatan! Kang Budi Kampung Domba pun datang ke Villa Domba sembari membawa Induk Domba yang memang harus kembali dikawinkan selepas masa istirahat pasca kelahiran. Teringat betul dimasa lalu bilamana hubungan antara penulis dan kang Budi yang awalnya hanya sebatas jual beli di mana kang Budi merupakan konsumen bibit ternak Villa Domba, Alhamdullilah semakin berkembang di mana kang Budi saat ini merupakan mitra pembibitan Villa Domba. Induk Domba Betina dari Villa Domba diamanahkan kepada petani binaan kang Budi untuk dipelihara yang mana sebagai imbalannya akan diterapkan pola kerjasama bagi hasil. Mari gerakkan Ekonomi Kerakyatan!



Berita lainnya yang semoga bermanfaat, Alhamdullilah Induk Domba Garut betina yang melahirkan 3 ekor anak dalam keadaan sehat terjadi lagi di Villa Domba pada bulan ini. Lebih menggembirakannya lagi di mana kesemuanya adalah berjenis kelamin Jantan. Majulah usaha ternak& pertanian organik Indonesia!

KLIK Video Youtube terbaru:
Kelahiran Anak Domba 3 Ekor
http://www.youtube.com/watch?v=9GP8xSMmn6c

PANEN BUAH KOPI ORGANIK

Alhamdullilah dan betapa bahagianya hati seluruh personil divisi perkebunan organik di Villa Domba, selain buah dari tanaman Vanilla organik yang direncanakan siap memasuki masa panen pada bulan Mei tahun 2008, tanaman Kopi yang menjadi jenis tanaman sela selama ini Alhamdullilah juga di mana sudah memasuki kegiatan masa panen secara bertahap. ”Bersiap untuk kegiatan pengolahan buah!” demikian instruksi sang creator Villa Domba.


Terimakasih kepada seluruh personil divisi perkebunan organik dan juga tentunya peternakan di Villa Domba. Sinergi yang cantik, pengorbanan dan kerja keras yang selama ini kita lakukan bersama Insya Allah telah membuahkan hasil tentunya, perjalanan terus berlanjut! Alam Yanuardi, Chrismantoro Susilo, Riri dan personil lainnya. Tak lupa pula peran para peneliti yang senantiasa berkenan membimbing Kami, Prof. Dr. Bambang Hadisutrisno, Dr, Ir. Mesak Tombe, Dr. Ir. Nursamsi Pusposendjojo dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu pada Blog ini. Majulah Usaha Peternakan& Pertanian serta Perkebunan Organik Indonesia!

KLIK Video Youtube terbaru:
Panen Buah Kopi Bertahap
http://www.youtube.com/watch?v=svEvaiEMDag

SEKALI TANCEP LANGSUNG BRENG

Cebreng, sekali tancep maka akan langsung breeeeeeeeng! Breng disini mengandung arti di mana pohon cebreng demikian masyarakat provinsi Jawa Barat menyebutnya sebagai jenis tanaman yang mudah untuk ditanam. Sebuah informasi yang semoga bermanfaat ditulis oleh saudari Riri untuk Blog ini:


Keluarga Leguminoceae yang di tancep langsung breeng. Tanaman pohon cebreng (bahasa sunda) atau biasa dikenal dengan sebutan pohon Gamal dalam botani sistematik termasuk keluarga kacang-kacangan yang berbintil akar dan dapat membantu suplai zat lemas (Nitrogen) karena mampu mengikat N bebas dari udara sehingga keberadaannya membantu memperbaiki kesuburan tanah. Selain sebagai pohon penghijauan dan pagar, tanaman cebreng dalam lingkungan petani perkebunan vanili khususnya di provinsi Jawa Barat juga dimanfaatkan sebagai tanaman pohon tajar. Tanaman pohon tajar berupa cebreng ini sangat diperlukan untuk memberi naungan dan sebagai pohon inang rambatan bagi tanaman vanili yang semi-epifit.

Dengan fungsinya yang begitu penting menyokong pertumbuhan tanaman si Emas Hijau, pohon cebreng juga perlu diperhatikan pemeliharaannya. Selain asupan nutrisi yang cukup serta pengairan di musim kemarau, tanaman pohon cebreng juga perlu diatur kanopinya untuk penetrasi cahaya dalam kebun yang salah satunya dilakukan dengan pemangkasan. Kegiatan pemangkasan ini biasa dilakukan saat awal musim hujan. Pemangkasan pohon cebreng ditujukan selain untuk pengaturan penetrasi cahaya dengan komposisi kanopi, juga untuk pengaturan frame sebagai rambatan dan tempat pelengkungan sulur tanaman vanili.


Batang tanaman pohon cebreng memilki karakteristik yang kuat dalam hal kemampuan totypotent-nya, batang hasil pangkasan dapat dengan mudah digunakan sebagai stek untuk perbanyakan bibit, sedangkan pohon pokoknya dengan cepat akan menumbuhkan tunas-tunas baru calon cabang, karena hal ini lah Gamal disebut sebagai Cebreng, di tancep langsung breng! Dengan nilai guna yang sangat penting, bibit tanaman pohon cebreng banyak dibutuhkan. Per tahunnya, batang tanaman pohon cebreng dapat mencapai diameter 10 cm pada batang pokoknya, sedangkan cabang sekunder antara 4 – 6 cm dengan 2 – 3 batang per tanaman sesuai pemeliharaan, tinggi batang dapat mencapai 4 – 4,5 meter. Batang pokok dapat dipergunakan sebagai bibit tajar untuk tanaman vanili, dari satu batang pokok yang dipangkas pada ketinggian 1,5 meter dapat diperoleh 2 – 3 batang bibit baru. Sedangkan batang sekunder dapat dipergunakan untuk bibit tanaman penghijauan dengan rerata produksi stek 4- 9 batang per tahun. Selain digunakan kanopinya untuk naungan, serta batangnya untuk perambatan dan produksi bibit, daun tanaman pohon cebreng juga baik untuk penyusun ransum pakan ternak ruminansia seperti Domba Garut sebagai sumber nitrogen.

KLIK Video Youtube terbaru:
Penanaman Pohon Cebreng sebagai Persiapan Lahan Tanaman Vanilla

Penanaman Cebreng (1)
http://www.youtube.com/watch?v=UEV3y5Y6IzU

Penanaman Cebreng (2)
http://www.youtube.com/watch?v=1otKhP-Av0c

Penanaman Cebreng (3)
http://www.youtube.com/watch?v=vm9u_CmKxXY

Penanaman Cebreng (4)
http://www.youtube.com/watch?v=2srk0OTMNGI

Sunday, March 23, 2008

VANILLA AGRO TOURISM

Visit Indonesia Year 2008

Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca Blog sekalian dan menjadikan motivasi serta inspirasi untuk semakin terus mengembangkan sektor usaha pertanian, perkebunan dan peternakan di Indonesia khususnya Vanilla! Vanilla Agro Tourism! Jika bangsa dan negara lainnya bisa maka kenapa Indonesia tidak! Diawali dengan hasil penelusuran penulis pada sebuah web menarik yaitu http://www.palmlandtours.net.


Vanilla County Plantation Villa. Berlokasi di Kerala India maka di tempat ini akan dapat dilihat bagaimana berbagai jenis tanaman rempah, sayuran dan buah-buahan dibudidayakan dengan cara organik. Mulai dari tanaman Vanilla, Kopi, Lada dan teh. Budidaya pertanian organik dikembangkan dengan sinergi usaha dengan peternakan Sapi.


Kemudian dari web.http://www.costarica.com/. Adalah Villa Vanilla yang berlokasi di negara Costarica. Di tempat ini maka akan dapat dilihat tentang budidaya tanaman Vanilla dimulai dari kegiatan pembibitan, penanaman, pembungaan, pembuahan dan proses kegiatan pengolahan buah.

Web menarik lainnya, http://www.hillviewhomestay.com/facilities.htm. Organic Vanilla Plantation. Lokasinya masih di negara India, di tempat ini maka dapat dinikmati hamparan perkebunan teh, kopi dan utamanya Vanilla. Salam Petani Organik dan Bangkitlah Petani Vanilla Indonesia!

Monday, March 17, 2008

INFO FEDC



Buku Ekspor Buah ke Uni Eropa
Dengan 27 negara anggota yang berpopulasi sekitar 500 juta penduduk, Uni Eropa menjadi sebuah alternatif pasar yang menarik. Uni Eropa adalah lokasi yang prima dalam perdagangan internasional dan dikenal sebagai importir buah terbesar di dunia. Minat terhadap buah – buahan eksotis pun semakin marak sejalan dengan meningkatnya populasi pendatang serta kesadaran akan gaya hidup sehat. Sebagai salah satu upaya mendukung sektor buah Indonesia untuk memasuki pasar Eropa, FEDC telah menerbitkan booklet: EKSPOR BUAH KE UNI EROPA. Booklet ini memuat empat faktor utama dalam mengekspor buah ke Eropa yang mengacu pada pertanyaan – pertanyaan yang sering kali diajukan, yaitu Uni Eropa sebagai pasar ekspor, tren dan peluang pasar buah di Uni Eropa, prosedur dan persiapan ekspor serta persyaratan akses pasar Uni Eropa. Buku ini tersedia dwibahasa, yakni Bahasa Indonesia (versi cetak dan on-line) dan Bahasa Inggris (versi on-line di akhir Februai 2008) dan dapat juga diakses melalui website kami:
Untuk informasi lebih lanjut atau pengiriman booklet, silakan menghubungi FEDC Tel. 021-315 4685, Faks. 021 – 315 5276.

Workshop SWOT Mangga dan Manggis
Direktorat Jenderal Hortikultura c.q Direktorat Budidaya Tanaman Buah bekerjasama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) telah menyelenggarakan Workshop SWOT Mangga dan Manggis selama dua hari pada tanggal 23 -24 Januari 2008 lalu di Hotel Grand Kemang, Jakarta. Workshop yang diikuti oleh lebih dari 80 peserta dari berbagai institusi terkait pengembangan sektor buah Indonesia, seperti kelompok tani, eksportir, distributor, Balai Karantina, Departemen Perhubungan, lembaga penelitian, NGO (AMARTA, World Bank, IFC, FEDC), serta supermarket (Carrefour), bertujuan meningkatkan daya saing dan pemasaran komoditas manggis dan mangga di pasar internasional. Pada workshop tersebut dibahas secara mendalam kekuatan,kelemahan, peluang serta strategi pengembangan kedua komoditas ini. Beberapa hal menarik yang mencuat antara lain, usulan pencitraan Mangga Arumanis sebagai “Green Sweet Mango“ di pasar ekspor, pengembangan produk olahan mangga dan manggis (wine, buah kering, keripik, jus, aneka produk kecantikan), tersedianya teknologi Vapor Heat Treatment (VHT) untuk mengatasi beberapa problematika karantina pada Maret 2008, dan upaya DAI – AMARTA (USAID) untuk melakukan percobaan pengiriman mangga ke Dubai menggunakan rantai pendingin.

Pelatihan PPEI – CBI
22 – 24 April 2008, Gedung PPEI, Jakarta – Indonesia. Pusat Pengembangan Ekspor Indonesia (PPEI) bekerjasama dengan CBI (Pusat Promosi Produk Impor dari Negara Berkembang; yang berkedudukan di Belanda) akan menyelenggarakan pelatihan tiga hari mengenai prosedur dan persyaratan akses pasar ke Uni Eropa. Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi PPEI di tel. (021) 566 6732, faks. (021) 566 3309


4th International Symposium on Tropical & Subtropical Fruits.
3 – 7 November 2008, IPB International Convention Centre,Bogor – Indonesia. International Society of Horticultural Sciences (ISHS) bekerja sama dengan Indonesian Horticultural Society, Departemen Pertanian RI, Departemen Riset dan Teknologi akan menyelenggarakan simposium internasional untuk buah – buahan tropis dan subtropis akan menyelenggarakan Simposium internasional ke-4 untuk buah – buahan tropis dan subtropis. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Prof. Dr. Roedhy Poerwanto, tel. (0251) 326 881, 382 201, faks. (0251) 326 881.

Wednesday, March 12, 2008

INFO VILLA DOMBA : KANG LUKI

"No pain, No gain bang!” demikian ucap kang Luki kepada penulis setiap kali penulis bertanya apakah ada kendala terkait promosi dan pemasaran. Perlu kiranya penulis perkenalkan mengenai sahabat yang sudah ibarat saudara bagi penulis ini, perkenalan copy darat Kami dimulai ketika bulan Ramadhan tahun lalu: Enerjik, kreatif, loyal, berani maju dan semangat pantang mundur berjibaku di lapangan, tidaklah salah bila penulis memohon kesediaannya menjadi bagian tim promosi dan pemasaran Villa Domba.

Semangat dan pengorbanannya yang luar biasa menjadikan Kang Luki pun diberikan amanah oleh sang creator Villa Domba yaitu pak Suhadi untuk berkenan bergabung pula ke dalam tim kreatif Villa Domba. Tim kecil beranggotakan personil produksi dan pemasaran yang diwajibkan memutar otak agar potensi usaha pertanian dan peternakan yang dijalankan memberikan hasil yang optimal. “Jangan pernah berhenti berpikir, bertindak dan berbuat positif selama tubuh ini masih bernyawa!” demikian nasihat yang selalu disampaikan oleh sang creator Villa Domba kepada tim kreatif.

Seiring dengan waktu maka akan diperkenalkan oleh penulis tentang tim kreatif dimaksud. Silahkan kunjungi Blog kang Luki melalui http://www.luckysidejob.blogspot.com/, saat ini informasi seputar produk Villa Domba terkait Aqiqah & Qurban juga dapat diakses pada Blog tersebut. No pain, no gain kang!

Monday, March 10, 2008

BERKEBUN ORGANIK DI PEKARANGAN RUMAH

”Apakah bisa berkebun organik di pekarangan rumah?” demikian pertanyaan yang penulis peroleh ketika menerima telepon dari salah satu pembaca setia Blog belum lama ini. Kenapa tidak? Semoga beberapa cuplikan artikel berikut dapat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi inspirasi:

http://www.situshijau.co.id
Selain sehat, ternyata bercocok tanam sistim organik tidak begitu susah yang kita bayangkan. Aneka tanaman buah atau sayuran seperti sawi, bayam, tomat, kangkung, cabai bisa ditanam di halaman. Caranya dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan sisa di sudut rumah, kantor, sekolah atau pada tanah-tanah yang tidak terpakai. Bisa juga dengan menanam di dekat bantaran sungai, taman, kompleks pemakaman atau persimpangan-persimpangan jalan yang masih kosong. Sedangkan untuk tempat huidupnya tidak harus ditanam di atas tanah terbuka. Menurut saran Eje, pot-pot yang digunakan tidak harus dengan cara membeli atau baru. Tapi bisa ditanam diatas bahan-bahan yang tidak dipakai seperti ember bekas, tong, kaleng atau botol plastik. Hal tersebut selain murah biayanya, juga dapat menanggulangi masalah sampah. "Untuk kondisi rumah yang mempunyai pekarangan sempit sangat cocok bila memakai sistem pertanian bertingkat," ungkap Eje. Vertikultur begitu istilah cara menanam pohon dengan bersusun tersebut cocok sekali diterapkan di perkotaan yang padat penduduk. Penempatannya tidak memakan lahan. Keuntungan lainnya adalah pohon yang ditanam lebih banyak karena bersusun ke atas. Bahan-bahannya pun mudah diperoleh, seperti dari bambu, kayu, paralon, seng bekas atau talang air. Bisa ditaruh atau dibuat menurut selera. Sumber: Pembaruan

http://www.seputar-indonesia.com
Sementara itu, pengamat pertanian Ir Syafullah MP mengatakan, pertanian organik merupakan pertanian yang dalam proses produksinya tidak menggunakan media dan bahan kimia berbahaya. Pertanian semacam ini sangat cocok diterapkan di daerah perkotaan. Karena tidak membutuhkan tempat yang luas dan memberikan dampak positif pada lingkungan sekitar. “Pertanian organik masih sangat jarang di Kota Palembang, tapi di Pulau Jawa dan luar negeri telah dibudidayakan dengan baik dan memperoleh keuntungan,”terangnya saat dihubungi SINDO. Syafullah menerangkan, cukup dengan pekarangan berukuran 20 m2, warga sudah dapat menanam berbagai tanaman sayuran.Jadi,sangat banyak manfaatnya jika pertanian organik dikembangkan dengan baik.(edy parmansyah)

Lain lagi yang dilakukan oleh isteri tercinta penulis, walaupun sudah tersedia lahan di perkebunan dan peternakan Villa Domba, namun dikarenakan hobinya pada tanaman hias maka ruang teras sempit di lantai 2 rumah pun tidak luput untuk dijadikan tempat budidaya tanaman hias. Setiap 2 minggu sekali maka penulis bertugas membawakan urine domba dari peternakan sedangkan pupuk organik dibelinya dari kios kebun bunga langganannya. Mari jadikan bumi ini hijau dan lestari! Salam Peternak & Petani Organik!

Thursday, March 6, 2008

SAYURAN ORGANIK

“Kang, mangga diujicoba bibitnya untuk ditanam di Villa Domba” demikian ucap kang Nick juragannya Kandaga Organic ketika penulis menyampaikan bilamana berkeinginan mengembangkan budidaya sayuran organik dengan lebih serius di lahan perkebunan Villa Domba. Kotoran Domba melimpah, kenapa tidak lebih dioptimalkan lagi kesuburan lahan yang ada demikian pikir penulis. Terlebih keleluasaan yang diberikan selalu oleh sang Creator yaitu pak Suhadi untuk tidak pernah berhenti berkreasi. Akhirnya panen juga jenis tanaman salada berbagaimacam varietas yang bibitnya diperoleh dari kang Nick di lahan Villa Domba: Le Boit Scos, Web Wonderfull dan Winter Density. Panen pertama kali ini memang belum dalam skala komersial, namun dengan janji kang Nick yang menyatakan siap menjadi mitra pendamping produksi dengan market guarantee maka Insya Allah kotoran dan urine domba dapat lebih termanfaatkan dan bernilai ekonomis berkat rencana pengembangan budidaya sayuran organik, Amin. Berikut sebuah artikel menarik yang ditulis oleh salah satu jagoan budidaya pertanian organik di Villa Domba yaitu Saudari Riri sebagai penanggungjawab project Sayuran Organik di Villa Domba. Semoga bermanfaat:





SIMPLY ORGANIC – Eko Setiyorini: Orang bilang umur bumi sudah terlalu tua, sudah banyak engsel, baut, dan sekrup yang keropos. Banyak kandungan alaminya yang tak lagi prima, terlalu dikuras habis oleh kita-manusia- terutama sebagai penghuninya. Apa yang kita ambil dari bumi, kini sudah tak lagi kita peroleh dalam keadaan kualitas yang baik, maka tak ayal lagi yang tercerna dalam diri juga terdegradasi kualitasnya. Kini, semakin orang mengerti pentingnya dukungan kesehatan untuk dapat menikmati hidup yang berkualitas, berbondong-bondong mereka menilik kembali apa yang mereka asup untuk memperoleh kesehatan. Salah satunya makanan yang bergizi dan tak banyak mengandung racun. Pilihan produk organik menjadi satu jargon yang menyatakan jaminan mutu dan dukungannya terhadap kesehatan baik konsumen-manusia, maupun produsennya-bumi, agar nantinya berkelanjutan dan masih dapat berproduksi pula untuk anak cucu.

Primadona produk organik lebih banyak berasal dari pertanian hortikultura, karena lebih mudah diproduksi dan lebih banyak dibutuhkan oleh konsumen. Utamanya, masyarakat akan menyandingkan beras organik dengan konsumsi sayuran organik, dibanding lauk organik. Apalagi kedelai lebih banyak diperoleh dari tanaman dengan perbaikan genetik yang tidak dapat digolongkan sebagai produksi pangan organik. Banyak jenis sayuran hijau (organ vegetatif yang dikonsumsi: daun, umbi) seperti bayam, kangkung, macam-macam sawi ataupun selada, bawang, dll, maupun sayuran buah (organ generatif yang dikonsumsi: buah, bunga) seperti tomat, timun, pare,dll yang diproduksi secara organik. Selain menghasilkan komsumsi tak beracun, sayuran organik secara organoleptik juga memberi cita rasa yang lebih ”kress” karena segar dan tanpa masukan kimia saat pemeliharaannya.

Produksi sayuran organik tidak terlalu merepotkan, malah dalam skala rumah tangga kita dapat memperoleh konsumsi bahan dapur yang sehat dan tak mengandung racun kimia. Salah satu yang dapat dicoba adalah tanaman selada, selain banyak disukai karena segar untuk ”lalapan”, sayuran daun jenis ini juga memilki rentang jenis pilihan yang banyak dan daya tumbuh yang baik pada daerah hangat sampai dingin. Dari sekian banyak jenis tanaman sub tropis ini ada beberapa yang beradaptasi baik di bumi Indonesia, antara lain varietas Winter Density, Le Bjoit Socs, Web Wonderfull, Radichio Palla Rosa, dan Butter Crunch. Untuk dapat bertani sayuran daun secara organik dengan hasil daun yang tidak banyak berstrimin....”bolong-bolong” karena dimakan ulat ataupun belalang, kita perlu menyiapkan rumah kaca, atau sungkup plastik untuk mudahnya. Sejak dari persemaian, dan pembesaran, bibit sayuran lebih baik dirawat dalam sungkup plastik untuk menghindari banyak kehilangan kelembaban, ataupun ancaman hama.

Tampak gambar adalah persemaian benih dalam tray untuk perkecambahan kurang lebih 1 minggu. Kemudian sungkup plastik untuk persemaian dan pembesaran masing-masing 1 minggu. Tanaman sayur jenis selada, sawi, kol dll dapat ditanam dengan menggunakan benih hasil perbanyakan generatif dari produsen benih, karena yang dikonsumsi adalah bagian vegetatifnya yaitu daun, maka kita petani tak akan ekonomis jika harus memanen sampai berbunga dan berbiji. Benih disemaiakan dalam tray dengan media kompos dan atau cocofit setebal 5 cm agar mudah muncul akar dan mudah saat pemindahan. Setelah 1 minggu kecambah sudah berakar dan dapat dipindahkan ke pembesaran dengan media dari bawah ke atas batu split, kompos, dan arang sekam masing-masing setebal 1, 8, dan ½ cm. Tampak gambar di bawah saat umur kecambah setelah 7 hari semai dan pindah tanam.


Bibit dirawat di pembesaran selama 1 minggu sampai mempunyai 3 lembar daun dan siap untuk dipindahkan ke lahan. Persiapan lahan dilakukan dengan penggemburan dengan dicampur pupuk kandang dan pembuatan bedengan dengan tinggi ±20 cm. Bibit dipindahkan dengan hati-hati, hindari kerusakan akar. Tanam bibit selada dengan jarak 15 x 15 cm, penyiraman dilakukan 2 hari sekali atau perhatikan kondisi cuaca. Setelah 25-30 hari tanaman selada siap dipanen. Untuk menghindari gangguan hama, dapat ditanam tanaman border. Semoga bermanfaat. Salam Peternak & Petani Organik!

Sunday, March 2, 2008

URINE DOMBA& STEK KOPI

Salam Peternak dan Petani Organik! Sebuah Email belum lama ini diterima oleh penulis dari kang Yogi salah satu pembaca setia Blog. Di mana ia menanyakan tentang pemanfaatan Urine dan Kotoran Ternak Domba Garut yang ada di lahan perkebunan dan peternakan Villa Domba. Pernah dibahas pada Blog ini di mana Urine dan Kotoran Ternak Domba ataupun juga Kambing sangatlah bermanfaat sebagai bahan baku pembuatan Pupuk Organik. Sebuah informasi bermanfaat bahkan penulis peroleh dari Bp. Soetanto Abdoellah dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, kandungan urine Kambing Domba mengandung hormon auksin yang dapat mempercepat pertumbuhan akar pada perbanyakan tanaman Kopi dan Kakao dengan cara stek.
Baru saja dilakukan ujicoba terkait aplikasi urine Domba yang dapat mempercepat pertumbuhan akar pada perbanyakan tanaman Kopi dengan cara stek di lahan perkebunan dan peternakan Villa Domba. Silahkan KLIK ringkasan Videonya pada Youtube: URINE DOMBA. Sebelumnya di Villa Domba di mana Urine dan Kotoran Ternak Domba telah dimanfaatkan juga sebagai Sumber Bahan Baku Pupuk Organik Padat maupun Cair yang difermentasi dengan Teknologi Bio TRIBA.











Ujicoba lain yang sedang dilakukan saat ini antara lain pemanfaatan Urine Domba pada perbanyakan tanaman Hias dan pohon Jati yang hasilnya Insya Allah akan dilaporkan juga dalam waktu dekat. Semoga bermanfaat. Sangatlah bijaksana bilamana kita mensyukuri apa yang telah diciptakan oleh Allah SWT kepada kita semua dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, sinergi sektor pertanian dan perkebunan dengan peternakan akan menjaga kelestarian alam yang telah diciptakan oleh-Nya. Untuk Generasi yang akan datang tentunya! Salam Peternak dan Petani Organik! Cuplikan beberapa artikel menarik:
A British bus company is testing a new secret weapon to reduce polluting emissions - sheep urine. Stagecoach has fitted a bus in Winchester with a tank containing the waste, reports the Guardian. The urine is sprayed into exhaust fumes to reduce emissions of harmful nitrous oxides. Andrew Dyer, managing director of Stagecoach South, said: "It is a novel way of reducing pollution but we believe it will work. "This is the latest in green technology and we believe it will help make our cities better places to be for the public." The scheme is backed by Hampshire county council as part of an effort to reduce pollution. The bus carried its first passengers last month. The urine is collected by the fertiliser industry from farmyard waste and refined into pure urea, which is then sold on to be used in the green engine technology. Ammonia from the urea reacts with nitrous oxides in the exhaust fumes and converts them to nitrogen gas and water, which is released as steam.(http://www.ananova.com/)

Padang, Kompas - Urine kambing dan tahi kambing yang selama ini terbuang percuma dan belum diketahui kegunaannya kini dapat digunakan untuk pupuk yang ramah lingkungan. Tahi kambing yang sulit hancur bisa dihancurkan oleh urine hewan itu. Penemunya adalah dua petani di Institut Pertanian Organik atau IPO Aia Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Mereka adalah Andra dan Z Sutan Mancayo. Petani tak perlu panik memikirkan kelangkaan pupuk urea atau pupuk kimia lain. Petani di IPO Aia Angek sudah menemukan pupuk tanaman yang ramah lingkungan dan produk pertaniannya aman bagi kesehatan konsumen, yaitu pupuk dari tahi dan urine kambing, kata Djoni, inisiator dan konsultan IPO Aia Angek, Minggu (29/1). IPO Aia Angek, dengan lahan seluas 1,5 hektar, tidak hanya menjadi tempat produksi sayuran organik, tetapi juga menjadi lahan penelitian para petani. Tempat itu sekaligus menjadi sekolah lapangan bagi petani dari berbagai daerah. Tamu hampir setiap hari datang untuk mengetahui bagaimana IPO menggalakkan pertanian organik, sekaligus meneliti. Djoni yang adalah tokoh dalam pertanian organik di Sumbar mengatakan, dari hasil uji coba petani dan hasil penelitian pihak perguruan tinggi, pupuk alami ramah lingkungan dari limbah ternak kambing itu bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk urea atau pupuk kimia lainnya. Semula belum ada pihak yang menemukan zat penghancur tahi kambing. Direndam dalam air selama delapan bulan pun, tahi kambing tetap bulat. Namun, ketika diuji coba dengan urine kambing, dalam tempo dua hari sudah jadi bubur yang siap digunakan sebagai pupuk, kata Djoni. Dari hasil penelitian Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, urine kambing rupanya mengandung kadar nitrogen 36,90 sampai 37,31 persen, fosfat 16,5-16,8 ppm, dan kalsium 0,67-1,27 persen. Menurut Djoni, kandungan nitrogen pada urine kambing sama dengan yang ada pada pupuk SP36, yaitu 36 persen nitrogen, atau tak beda jauh dengan kandungan nitrogen pupuk urea, yakni 45 persen. Dengan demikian, para petani tak perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, cukup tanaman dipupuk dengan urine kambing. Dua kilogram pupuk urea bisa diganti dan setara dengan 2,5 liter urine kambing. Data menyebutkan, satu ekor kambing menghasilkan 2,5 liter urine per hari dan menghasilkan kotoran (tahi) sebanyak satu karung selama dua bulan. Untuk kebutuhan pupuk lahan satu hektar per satu musim tanam sekitar dua ton urea. Dengan memelihara 10 ekor kambing, kebutuhan pupuk untuk satu hektar lahan sudah teratasi. Andra dan Z Sutan Mancayo juga menemukan pupuk cair ramah lingkungan lain, berasal dari limbah tanaman semak tithonia yang berbunga kuning, hampir mirip dengan bunga matahari. Prosesnya juga sederhana. Setelah tanaman semak yang berbunga kuning indah itu dipangkas, dikeringkan dalam suatu tempat yang ditutup, dan bagian bawahnya ditiriskan. Dalam beberapa hari ia akan menghasilkan pupuk cair. Dari 20 kilogram semak tithonia, bisa dihasilkan 5,5 liter pupuk cair. Setelah itu, tulang-tulang daunnya bisa dijadikan pupuk, yang juga bisa diolah menjadi pupuk ramah lingkungan, yaitu kompos, papar Djoni. Dari hasil penelitian, ungkap Djoni, selain mengandung nitrogen dan fosfat, pupuk cair dari tithonia juga mengandung delapan unsur mikro lain, seperti Ca, Mg, K, Na, Cu, Zn, Mn, dan Fe. Pupuk ini lebih bagus daripada pupuk kimia karena mengandung banyak unsur mikro. (nal)(http://www.kompas.co.id/)

Mohon maaf dikarenakan pengambilan gambar video hanya dengan menggunakan kamera handphone maka kualitasnya kurang begitu baik, Terimakasih dan semoga dapat semakin memajukan usaha kerakyatan yang tengah dirintis.